Get Adobe Flash player
Home Press Release Others Kanker; Mengkaji Dampak Ekonomi, Sosial dan Kualitas Hidup Dalam Skala ASEAN

Kanker; Mengkaji Dampak Ekonomi, Sosial dan Kualitas Hidup Dalam Skala ASEAN

Kanker di Dunia
Kanker ditetapkan sebagai penyebab utama kematian global dengan angka yang mencapai 13% (atau 7,4 juta) dari semua kematian setiap tahunnya (WHO, 2010) dan 70% dari kematian akibat kanker terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Diperkirakan angka kematian akibat kanker akan meningkat secara signifikan selama tahun-tahun mendatang dan akan mencapai sekitar 13 juta kematian per tahun di seluruh dunia pada tahun 2030. Kecenderungan  ini bahkan lebih mencolok di Asia di mana jumlah kematian per tahun pada tahun 2002 sebesar 3,5 juta diperkirakan meningkat menjadi 8,1 juta pada tahun 2020 (Lancet, 2010).
Beban ekonomi pengobatan kanker tidak hanya berdampak terhadap sistem kesehatan tetapi semakin juga untuk individu dan rumah tangga mereka yang terkena kanker.
Dampak ini akan dirasakan paling kuat di kelompok sosioekonomi rendah, khususnya (meskipun tidak secara eksklusif) di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di mana jaring pengaman sosial, seperti asuransi kesehatan universal kurang tersedia.
Sebagai konsekuensinya adalah bahwa kanker - khususnya biaya pengobatan dan dampaknya pada kemampuan orang untuk bekerja - bisa menjadi penyebab utama kemiskinan.

Beban Kanker di Asia
Beban kanker terus memburuk di Asia Selatan dan Timur. Lebih dari 5,3 juta kasus kanker  didiagnosis setiap tahunnya.  Karena perawatan sebagian besar masih tidak tersedia atau sulit didapatkan, lebih dari 3,7 juta kematian akibat kanker terjadi setiap tahun, yang merupakan hampir 70 persen dari semua kasus kanker.  Dengan demikian, sangatlah penting untuk memobilisasi dan mendorong pemerintah di negara-negara tersebut menetapkan strategi pengendalian kanker sebelum kanker merusak perekonomian.

ASEAN Menghadapi Masalah Kanker
Profesor Mark Woodward, dari The George Institute for Global Health di Sydney mencatat bahwa ada sekitar 700.000 kasus kanker baru di negara-negara anggota ASEAN pada tahun 2008 dan setengah juta kematian akibat kanker terjadi di tahun yang sama.
Di antara pria, kanker paru merupakan jenis kanker yang paling mematikan, diikuti oleh kanker hati dan kanker kolorektal.  Di antara wanita, kanker payudara, paru dan leher rahim merupakan kasus kematian terbesar.  Namun demikian, ada variasi geografis yang besar di antara masyarakat ASEAN. Sebagai contoh, tingkat kematian untuk kanker payudara di Indonesia mencapai kisaran tiga kali lebih tinggi daripada di Laos dan Vietnam, sementara kanker perut di Vietnam sekitar empat sampai lima kali lebih tinggi dari Laos, Filipina dan Thailand.
Dr. Surin Pitsuwan, Sekretaris Jenderal ASEAN, dalam acara “ASEAN Cancer Stakeholders Forum” pertama yang diselenggarakan di Singapura tanggal 7 Juli 2011 yang lalu menegaskan bahwa insiden kanker yang terus meningkat segera akan menjadi penyebab utama beban ekonomi yang terus meningkat baik bagi individu dan keluarganya. Dr. Surin juga menegaskan bahwa dengan terus meningkatnya prevalensi kanker, merupakan sebuah keharusan bagi negara-negara anggota ASEAN untuk memobilisasi diri dan menyusun kebijakan pengendalian kanker yang stratejik dan focus. Kebijakan tersebut menurut Dr. Surin harus didukung oleh program pencegahan kanker yang berdasarkan data-data akurat dan diperkuat dengan sistem pengelolaan pendataan di tingkat lokal dan populasi.

Indonesia
Menurut data Departemen Kesehatan, di Indonesia prevalensi tumor/kanker adalah 4,3 per 1000 penduduk. Kanker merupakan penyebab kematian nomor 7 (5,7%) setelah stroke, TB, hipertensi, cedera, perinatal, dan DM (Riskesdas, 2007). Sedangkan berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun 2007, kanker payudara menempati urutan pertama pada pasien rawat inap di seluruh RS di Indonesia (16,85%), disusul kanker leher rahim (11,78%).  Hal ini sama dengan estimasi Globocan (IACR) tahun 2002. Kanker tertinggi yang diderita wanita Indonesia adalah kanker payudara dengan angka kejadian 26 per 100.000 perempuan, disusul kanker leher rahim dengan 16 per 100.000 perempuan. Menurut data SIRS 2007, kasus kanker bronchus dan paru pada pasien rawat inap sebesar 5,8% dari seluruh jenis kanker. Kanker hati juga menjadi jenis kanker dengan penderita yang banyak. Penderita kanker hati umumnya laki-laki. Penyakit kanker hati ini merupakan jenis penyakit kanker dengan jumlah penderita nomor lima terbanyak di dunia dan menjadi penyebab kematian nomor tiga.
Salah satu faktor risiko yang menyebabkan tingginya kejadian kanker di Indonesia yaitu prevalensi merokok 23,7%, obesitas umum penduduk berusia ≥ 15 tahun pada laki-laki 13,9% dan pada perempuan 23,8%. Prevalensi kurang konsumsi buah dan sayur 93,6%, konsumsi makanan diawetkan 6,3%, makanan berlemak 12,8%, dan makanan dengan penyedap 77,8%. Sedangkan prevalensi kurang aktivitas fisik sebesar 48,2% (data Riskesdas tahun 2007).

Pengendalian Kanker
Dampak negatif dari kanker pada individu dan masyarakat dapat sangat dikurangi melalui program pengendalian kanker.  Lingkup pengendalian kanker meluas dari pencegahan dan penapisan, pengobatan, rehabilitasi dan perawatan paliatif.
Pelaksanaan tindakan pengendalian kanker memerlukan kemauan politik, mobilisasi sumberdaya, dan strategi bersama yang melibatkan organisasi pemerintah dan non-pemerintah dan kelompok-kelompok masyarakat dan pasien.  WHO telah merekomendasikan adanya Program Pengendalian Kanker Nasional di tiap-tiap negara.

Studi ACTION
Dalam upaya mendukung pemerintah negara-negara di ASEAN menyusun dprogram pengendalian kanker berbasis data yang memadai, kantor regional Asia Pasifik Roche telah berkomitmen untuk mendanai sebuah studi berskala regional ASEAN yaitu ACTION Study (Asean CosTs In Oncology) bekerjasama dengan the George Institute for Global Health dan lembaga-lembaga di tingkat nasional, salah satunya adalah Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia melalui Pusat Kajian Ekonomi Kesehatan dan Kebijakan Kesehatan. Ada delapan negara yang berkomitmen terlibat dalam studi ini yaitu Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand dan Vietnam. Indonesia akan menjadi contributor terbesar studi ini dengan jumlah pasien 2400.
Studi ACTION akan melihat dampak ekonomi, social dan kualitas hidup dari berbagai jenis kanker di negara-negara ASEAN.
Share/Save/Bookmark